Selasa, 19 Maret 2013

Kolor Ajaib Penangkal Petir



Cerita Ini Hanya bisa di Baca Dengan Orang yang bernalar Tinggi
Kisah ini terjadi pada tahun 2011. Waktu itu tiba tiba dari kelasku yang pada saat itu di penuhi jaring laba laba datang seekor cewek cantik, masuk ke kelas kami yang tampak mencekam karena di isi oleh siswa siswa aneh (tidak termasuk gue). Banyak yang saat itu menyangka kami kedatangan murid baru , tapi ternyata dia anak yang tinggal kelas. Dengan modal Pager Jigong yang kuat melekat di sekitar giginya serta belahan bibir dowernya dia menyapa kami. Aku berfikir apakah kebegoan atau kebloonan yang membuat cewek pager jigong ini tinggal kelas.
Gue perhatiin selama lamanya, ternyata cewek ini cantik juga. Aku mencoba melempar tanganku ke mukanya maksud gue ketangannya atau bisa di sebut kenalan, nama cewek golongan dungu ini adalah Deli*a. Tapi sayangnya di balik  Pager Jigong Hologram itu terselip potongan kulit apel merah(cabe di gigi) yang mengeluarkan aroma semerbak bunga bangkai yang sudah menjadi bangkai yang sontak ngebuat hidung gue menjadi layu keunguan yang juga membuat bulu hidung gue yang terawat selama belasan tahun gugur sia sia.
Setelah gue berkenalan lebih jauh tentang Deli*a, gue kecewa dengan wajahnya yang kemayu seperti mbok-mbok jamu langgananku yang suka ngasih susu fresh *jangan berfikiran negatif*. Kenapa?
Karena ternyata dia menyimpan sifat laki-laki tulen, yang sebenernya Deli*a tomboy, tapi yang jelas cewek pager jigong golongan dungu ini ½wanita ½ lelaki, jadi bisa di sebut wanita pepaya “maaf” buaya. Sanking jijay dengan sifatnya yang aneh para cewek cewek berwajah cowok di kelas gue kagak mau temenan ma Deli*a kecuali “3DIVA” sebutan bagi cewek cewek metafisik(horor) yang somplak di kelas gue. Sebenernya Deli*a cocok dan larut dengan 3DIVA karena sama sama termasuk dalam golongan dungu permanen. Seiring berjalannya putaran bumi yang di putar-putar sama sidabutar, yang mukanya lebar-lebar juga berbadan mekar, gue dapet 1 kelompok belajar bersama Deli*a bersama Tahi lalat super, Jambul Owa jawa, Wajah 1000 rupa dan tentunya 3DIVA yang akan gue ceritain kisah merka di kutipan lucu gue selanjutnya. Kami sepakat bekerja kelompok di rumah Deli*a. Dengan penuh rasa kekecewaan, dari rumah, gue berangkat dengan SUPRAMATIC “sebutan bagi tunggangan gue. Setibanya di rumah Deli*a gue terkejut dengan rumahnya yang EKSOTIS, kenapa gue bilang begitu, karena rumahnya di hiasi bata pres(belum di plester), rimbunan taman bunga(semak belukar), kolam renang(rawa-rawa becek), dan ukiran-ukiran kayu(triplek bekas kandang ayam yang masih terlihat kompos ayam yang mengering sehingga terbentuk seperti ukiran kayu). Rumah eksotis ini di sebut dengan TAMAN NASIONAL ISTANA BATA. Deli*a yang menyebut rumah tidak layak huni ini dengan istana bata, aku berfikir mungkin kebloonan Deli*a datang gara gara tinggal di habitat rumah tak layak huni ini. Sesaat pandangan ku terhenti setelah melihat kolor bekas yang sengaja di sangkutkan di antenanya, suara serak serak becek ku pun tidak menampakkan wujudnya. Aku terdiam, teman ku 1 kelompok terdiam, orang bisu pun terdiam di rumahnya masing-masing, cairan asin alami yang sudah lama tidak keluar dari lubang hidung gue akhirnya menampakkan batang hidungnya, belek gue keluar-luar, Perlahan gue tanya sama Deli*a cewek pager jigong golongan dungu yang menganggap dirinya terapist lemah urat yang mengobati orang terkilir dengan hanya meludahi pasiennya dengan jigong saktinya.
Gue nanya “oi cewek somplak itu apa?” Deli*a menjawab “itu kolor penangkal petir yang anti terhadap petir!”. Deli*a bercerita tentang sejarah kolor itu seraya mengangambil kolor yang sudah usang di makan usia, dengan karet kolor pengatur pahanya pun sudah kendor, robek disana sini, dan banyak bercak kotoran burung gereja yang sedang transit di atas rumahnya.
Deli*a: “Kolor ini bekas peninggalan bokap gue dulu pas lagi perang”
Gue    : ”Emang Bokap lo setua itu ya?”
Deli*a: “Emang iya!”
Tiba tiba dari balik isatana bata, keluar sesosok lelaki tua dengan wajah sekitar 80tahunan, tanpa busana hanya memakai cawat putih layaknya tuyul tua, dengan badan kurus kering seprti tengkorak keriting serta berkulit kendor yang mungkin kalo gue kuliti, gue bisa sukses mengekspor krupuk kulit ke belahan bumi ini.
Deli*a: “Ha, itu lah bokap gue!”
Gue DKK: “ Apa (sambil mata gue dkk keluar dari tempatnya)???”
Gue terkejut ngelihat bokapnya Deli*a, rasanya kebenaran yang terpasung udah terbuka, dari cara bokapnya Deli*a berpakaian gue tau asal muasal ke begoannya Deli*a, dan lebih parahnya lagi Deli*a menyebutnya dengan nama papa, dalam hati gue tertawa sambil sulit menahan kentut yang mau di keluarin “Si Betty dan menahan Teh herbal alami yang mau di keluarin “CR7”, seraya berkata gue nggak tega manggil ni Opa-opa jompo dengan sebutan om yang tentunya cocok di panggil buat dia ketika usianya saat ini di kurang setengahnya. Tak sengaja tiba-tiba hari mendadak mendung, sontak gue dkk masuk ke istana bata, kami hanya di suguhi semangkok bubur biji toge bekas 3 hari yang lalu. Tiba tiba dengan kuat petir menyambar tepat di rumah itu, tepat di area kolor tersebut, anehnya kolor itu tidak gosong seperti biasanya. Gue salut dengan titit om-om tua yang ngaku bapaknya Deli*a itu. Mungkin masih banyak ke anehan lain di rumah istana bata tersebut.
To Be Continued…….

Sekian cerita dari saya, jika ada yang ada yang komplin atau crita nya garing garing krupuk kulit bisa posting komentar, atau follow tweeter saya @Anu_CicakGede, atau adede Pesbuk Saya di facebook.com/Rezha.Miscrits atau boleh bogem gue jika kalian lihat gue(INI HANYA CERITA JANGAN DI SIMPAN DI DALAM EMPEDU). Sekian kutipan cerita dari saya apa bila ada salah salah kata saya mohon maaf sedalam-dalam sumur, karna kesempurnaan hanya milik Tuhan Yang Maha Esa dan Andra n The Backbone serta di aransemen oleh Gita Gutawa. Assalamualaikum Wr Wb. Salam Anunya Cicak yang Gede…………………..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Please Komentarnya..........