Cerita Ini Hanya bisa di Baca Dengan Orang yang bernalar Tinggi
Kisah ini terjadi pada tahun 2011. Waktu itu tiba tiba dari
kelasku yang pada saat itu di penuhi jaring laba laba datang seekor cewek
cantik, masuk ke kelas kami yang tampak mencekam karena di isi oleh siswa siswa
aneh (tidak termasuk gue). Banyak yang saat itu menyangka kami kedatangan murid
baru , tapi ternyata dia anak yang tinggal kelas. Dengan modal Pager Jigong
yang kuat melekat di sekitar giginya serta belahan bibir dowernya dia menyapa
kami. Aku berfikir apakah kebegoan atau kebloonan yang membuat cewek pager
jigong ini tinggal kelas.
Gue perhatiin selama lamanya, ternyata cewek ini cantik
juga. Aku mencoba melempar tanganku ke mukanya maksud gue ketangannya atau bisa
di sebut kenalan, nama cewek golongan dungu ini adalah Deli*a. Tapi sayangnya
di balik Pager Jigong Hologram itu
terselip potongan kulit apel merah(cabe di gigi) yang mengeluarkan aroma
semerbak bunga bangkai yang sudah menjadi bangkai yang sontak ngebuat hidung
gue menjadi layu keunguan yang juga membuat bulu hidung gue yang terawat selama
belasan tahun gugur sia sia.
Setelah gue berkenalan lebih jauh tentang Deli*a, gue kecewa
dengan wajahnya yang kemayu seperti mbok-mbok jamu langgananku yang suka ngasih
susu fresh *jangan berfikiran negatif*. Kenapa?
Karena ternyata dia menyimpan sifat laki-laki tulen, yang
sebenernya Deli*a tomboy, tapi yang jelas cewek pager jigong golongan dungu ini
½wanita ½ lelaki, jadi bisa di sebut wanita pepaya “maaf” buaya. Sanking jijay
dengan sifatnya yang aneh para cewek cewek berwajah cowok di kelas gue kagak
mau temenan ma Deli*a kecuali “3DIVA” sebutan bagi cewek cewek metafisik(horor)
yang somplak di kelas gue. Sebenernya Deli*a cocok dan larut dengan 3DIVA
karena sama sama termasuk dalam golongan dungu permanen. Seiring berjalannya
putaran bumi yang di putar-putar sama sidabutar, yang mukanya lebar-lebar juga
berbadan mekar, gue dapet 1 kelompok belajar bersama Deli*a bersama Tahi lalat
super, Jambul Owa jawa, Wajah 1000 rupa dan tentunya 3DIVA yang akan gue
ceritain kisah merka di kutipan lucu gue selanjutnya. Kami sepakat bekerja
kelompok di rumah Deli*a. Dengan penuh rasa kekecewaan, dari rumah, gue
berangkat dengan SUPRAMATIC “sebutan bagi tunggangan gue. Setibanya di rumah
Deli*a gue terkejut dengan rumahnya yang EKSOTIS, kenapa gue bilang begitu,
karena rumahnya di hiasi bata pres(belum di plester), rimbunan taman
bunga(semak belukar), kolam renang(rawa-rawa becek), dan ukiran-ukiran
kayu(triplek bekas kandang ayam yang masih terlihat kompos ayam yang mengering
sehingga terbentuk seperti ukiran kayu). Rumah eksotis ini di sebut dengan
TAMAN NASIONAL ISTANA BATA. Deli*a yang menyebut rumah tidak layak huni ini
dengan istana bata, aku berfikir mungkin kebloonan Deli*a datang gara gara
tinggal di habitat rumah tak layak huni ini. Sesaat pandangan ku terhenti
setelah melihat kolor bekas yang sengaja di sangkutkan di antenanya, suara serak
serak becek ku pun tidak menampakkan wujudnya. Aku terdiam, teman ku 1 kelompok
terdiam, orang bisu pun terdiam di rumahnya masing-masing, cairan asin alami
yang sudah lama tidak keluar dari lubang hidung gue akhirnya menampakkan batang
hidungnya, belek gue keluar-luar, Perlahan gue tanya sama Deli*a cewek pager
jigong golongan dungu yang menganggap dirinya terapist lemah urat yang
mengobati orang terkilir dengan hanya meludahi pasiennya dengan jigong
saktinya.
Gue nanya “oi cewek somplak itu apa?” Deli*a menjawab “itu
kolor penangkal petir yang anti terhadap petir!”. Deli*a bercerita tentang
sejarah kolor itu seraya mengangambil kolor yang sudah usang di makan usia,
dengan karet kolor pengatur pahanya pun sudah kendor, robek disana sini, dan
banyak bercak kotoran burung gereja yang sedang transit di atas rumahnya.
Deli*a: “Kolor ini bekas peninggalan bokap gue dulu pas lagi
perang”
Gue : ”Emang Bokap
lo setua itu ya?”
Deli*a: “Emang iya!”
Tiba
tiba dari balik isatana bata, keluar sesosok lelaki tua dengan wajah sekitar
80tahunan, tanpa busana hanya memakai cawat putih layaknya tuyul tua, dengan
badan kurus kering seprti tengkorak keriting serta berkulit kendor yang mungkin
kalo gue kuliti, gue bisa sukses mengekspor krupuk kulit ke belahan bumi ini.
Deli*a: “Ha, itu lah bokap gue!”
Gue DKK: “ Apa (sambil mata gue dkk keluar dari
tempatnya)???”
Gue
terkejut ngelihat bokapnya Deli*a, rasanya kebenaran yang terpasung udah
terbuka, dari cara bokapnya Deli*a berpakaian gue tau asal muasal ke begoannya
Deli*a, dan lebih parahnya lagi Deli*a menyebutnya dengan nama papa, dalam hati
gue tertawa sambil sulit menahan kentut yang mau di keluarin “Si Betty dan
menahan Teh herbal alami yang mau di keluarin “CR7”, seraya berkata gue nggak
tega manggil ni Opa-opa jompo dengan sebutan om yang tentunya cocok di panggil buat
dia ketika usianya saat ini di kurang setengahnya. Tak sengaja tiba-tiba hari
mendadak mendung, sontak gue dkk masuk ke istana bata, kami hanya di suguhi
semangkok bubur biji toge bekas 3 hari yang lalu. Tiba tiba dengan kuat petir
menyambar tepat di rumah itu, tepat di area kolor tersebut, anehnya kolor itu
tidak gosong seperti biasanya. Gue salut dengan titit om-om tua yang ngaku
bapaknya Deli*a itu. Mungkin masih banyak ke anehan lain di rumah istana bata
tersebut.
To Be Continued…….
Sekian cerita dari saya, jika ada yang ada yang komplin atau
crita nya garing garing krupuk kulit bisa posting komentar, atau follow tweeter
saya @Anu_CicakGede, atau adede Pesbuk Saya
di facebook.com/Rezha.Miscrits atau boleh
bogem gue jika kalian lihat gue(INI HANYA CERITA JANGAN DI SIMPAN DI DALAM EMPEDU).
Sekian kutipan cerita dari saya apa bila ada salah salah kata saya mohon maaf
sedalam-dalam sumur, karna kesempurnaan hanya milik Tuhan Yang Maha Esa dan
Andra n The Backbone serta di aransemen oleh Gita Gutawa. Assalamualaikum Wr
Wb. Salam Anunya Cicak yang Gede…………………..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Please Komentarnya..........